dimainkan oleh :
Siswi Kelas VII SMP Islam Insan Kamil Karangpuri, Wonoayu, Sidoarjo (16/11/2014)
![]() | |
Ande2 Lumut (Diva),Pengawal Bejo,Riris) & Untung (Almira) |
Ande Ande Lumut adalah nama samaran
seorang pangeran yang bernama asli Panji Asmarabangun dari Kerajaan Jenggala. Menurut cerita, Panji
Asmarabangun melakukan penyamaran karena ingin mencari istrinya yang telah
pergi meninggalkan istana. Mengapa istri Panji Asmarabangun pergi dari istana?
Lalu, berhasilkah Asmarabangun menemukan istrinya? Ikuti kisahnya dalam cerita Ande Ande Lumut berikut
ini.
Alkisah,
di daerah Jawa Timur, Indonesia, berdirilah dua buah
kerajaan kembar, yaitu Kerajaan Jenggala yang dipimpin oleh Raja Jayengnegara
dan Kerajaan Kediri yang dipimpin oleh Raja Jayengrana. Menurut cerita,
dahulunya kedua kerajaan tersebut berada dalam satu wilayah yang bernama
Kahuripan. Sesuai dengan pesan Airlangga sebelum meninggal, kedua kerajaan
tersebut harus disatukan kembali melalui suatu ikatan pernikahan untuk
menghindari terjadinya peperangan di antara mereka. Akhirnya, Panji
Asmarabangun (putra Jayengnegara) dinikahkan dengan Sekartaji (Putri
Jayengrana).
![]() |
Para Klenting, Mbok Rondo & Pangeran |
![]() |
Mbok Rondo Dapapan mengangkat pangeran jadi anaknya |
Di rumah Nyai Intan, Kleting Kuning selalu disuruh mengerjakan seluruh perkerjaan rumah seperti memasak, mencuci, dan membersihkan rumah. Ia sering dibentak oleh Nyai Intan dan diperlakukan tidak senonoh oleh ketiga kakak angkatnya. Bahkan, ia terkadang diberi makan sehari satu kali oleh ibu angkatnya.
Sementara itu, di Kerajaan Jenggala,
Panji Asmarabangun bersama pasukannya berhasil memukul mundur pasukan musuh.
Namun, ia sangat sedih karena istrinya telah pergi meninggalkan istana Jenggala
dan tidak ditahui keberadaannya.
Setelah keadaan di Kerajaan Jenggala
kembali tenang dan aman, sang Pangeran memutuskan untuk mencari istrinya. Namun
sebelum itu, ia memerintahkan beberapa
pengawalnya untuk mencari jejak kepergian istrinya. Suatu sore, ketika ia sedang duduk di pendopo istana, datanglah seorang pengawalnya untuk menyampaikan laporannya.
pengawalnya untuk mencari jejak kepergian istrinya. Suatu sore, ketika ia sedang duduk di pendopo istana, datanglah seorang pengawalnya untuk menyampaikan laporannya.
“Ampun, Baginda! Hamba ingin
menyampaikan berita gembira untuk Baginda,” lapor pengawal itu.
“Apakah kamu telah mengetahui
keberadaan istriku?” tanya Panji Asmarabangun dengan tidak sabar.
“Ampun, Baginda! Hamba hanya
menemukan seorang gadis yang mirip dengan isti Baginda di sebuah dusun. Namun,
hamba belum yakin dia itu istri Baginda, karena ia hanya seorang gadis kampung
yang bekerja sebagai pembantu pada seorang janda kaya,” jelas pengawal itu.
Mendengar laporan itu, sang Pangeran
pun memutuskan untuk menyamar menjadi seorang pangeran tampan yang sedang
mencari jodoh. Keesokan harinya, berangkatlah ia bersama beberapa orang
pengawalnya ke Desa Dadapan yang berada di dekat Sungai Bengawan Solo,
Lamongan. Desa itu berseberangan dengan desa tempat tinggal Kleting Kuning.
Di desa itu, Panji Asmarabangun
menyamar dengan nama Ande Ande Lumut dan tinggal di rumah seorang janda tua
bernama Mbok Randa. Beberapa hari kemudian, ia pun memerintahkan para
pengawalnya agar pengumuman sayembara mencari jodoh itu segera disebarkan kepada
seluruh pelosok desa. Dalam waktu singkat, berita tentang pelaksanaan sayembara
itu tersebar hingga ke desa seberang, desa tempat tinggal Kleting Kuning.
Betapa senangnya hati Kleting Abang,
Ijo, dan Biru mendengar kabar itu. Mereka akan berdandan sencantik-cantiknya
untuk menaklukkkan hati sang Pangeran Tampan, Ande Ande Lumut.
“Asyik… Asyik...!!! Kita akan
berdandan secantik-cantiknya. Kalau salah seorang di antara kita menjadi putri
raja, ibu pasti akan senang,” kata Kleting Abang.
Pada hari sayembara itu dimulai,
Kleting Abang, Ijo, dan Biru pun segera berdandan dengan sangat mencolok.
Mereka mengenakan pakaian yang paling bagus dan perhiasan yang indah. Saat
mereka sedang asyik berdandan, Kleting Kuning mendekati mereka.
“Wah, kalian cantik sekali!” puji
Kleting Kuning.
“Hai, Kleting Kuning! Apakah kamu
ingin mengikuti sayembara juga?” tanya Kleting Abang.
“Ah, tidak mungkin! Baju pun kamu
tak punya. Apakah kamu mau ikut sayembara dengan baju seperti itu?” sahut
Kleting Ijo dengan mencela.
“Benar, kamu tidak pantas ikut
sayembara ini! Lebih baik kamu di rumah mengurus semua pekerjaanmu. Ayo,
pergilah ke sungai mencuci semua pakaian kotor itu!” seru Kleting Biru sambil
menunjuk ke pakaian ganti mereka yang sudah kotor.
Kleting Kuning segera mengumpulkan
pakaian kotor itu lalu pergi ke sungai. Sebenarnya, ia pun tidak tertarik untuk
mengikuti sayembara itu, karena ia masih teringat kepada suaminya, Panji
Asmarabangun. Ia akan selalu setia kepada suaminya meskipun belum mendengar
kabar tentang keadaannya apakah masih hidup atau sudah tewas dalam peperangan.
Ketika ia sedang mencuci di sungai, tiba-tiba seekor burung bangau datang
menghampirinya. Anehnya, burung bangau itu dapat berbicara layaknya manusia dan
kedua kakinya mencengkram sebuah cambuk.
“Wahai, Tuan Putri! Pergilah ke Desa
Dedapan mengikuti sayembara itu! Di sana Tuan Putri akan bertemu dengan Panji
Asmarabangun. Bawalah cambuk ini! Jika sewaktu-waktu Tuan Putri membutuhkan
pertolongan, Tuan Putri boleh menggunakannya,” ujar sang burung bangau seraya
meletakkan cambuk itu di atas batu di dekat Kleting Kuning.
Belum sempat Kleting Kuning berkata
apa-apa, burung bangau itu sudah terbang ke angkasa dan seketika itu pula
menghilang dari pandangan mata. Tanpa berpikir panjang lagi, Kleting Kuning pun
segera kembali ke rumah dan bersiap-siap berangkat menuju Desa Dadapan.
Sementara itu, ketiga saudara dan
ibu angkatnya telah berangkat terlebih dahulu. Kini mereka telah sampai di tepi
Sungai Bengawan Solo. Mereka kebingungan, karena harus menyeberangi sungai yang
luas dan dalam itu, sementara tak satu pun perahu yang tampak di tepi sungai.
“Bu, bagaimana caranya kita
menyeberangi sungai ini?” tanya Kleting Ijo kebingungan.
“Iya, Bu! Apa yang harus kita
lakukan?” tambah Kleting Biru.
“Hai, coba lihat itu! Makhluk apa
itu?” seru Kleting Abang.
Betapa terkejutnya Nyai Intan dan
ketiga putrinya ketika mengetahui bahwa makhluk itu adalah seekor kepiting
raksasa yang sedang terapung di atas permukaan air. Menurut cerita, kepiting
raksasa yang bernama Yuyu Kangkang itu adalah utusan Ande Ande Lumut untuk
menguji para peserta sayembara yang melewati sungai itu.
“Hai, Kepiting Raksasa! Maukah kamu
membantu kami menyeberangi sungai ini?” pinta Kleting Abang.
“Ha... ha... ha...!!! Aku akan
membantu kalian, tapi kalian harus memenuhi satu syarat,” ujar Yuyu Kangkang.
“Apakah syaratmu itu, hai Kepiting
Raksasa? Katakanlah!” desak Kleting Ijo. “Apapun syaratmu, kami akan
memenuhinya asalkan kami dapat menyeberangi sungai ini.”
“Kalian harus menciumku terlebih
dahulu sebelum aku mengantar kalian ke seberang sungai,” kata Yuyu Kangkang.
Akhirnya, Kleting Abang dan kedua
adiknya menerima persyaratan Yuyu Kangkang. Satu persatu mereka mencium si Yuyu
Kangkang. Setelah itu, Yuyu Kangkang pun mengantar mereka ke seberang sungai.
Selang beberapa saat kemudian, Kleting Kuning juga tiba di tepi sungai. Ketika
Yuyu Kangkang mengajukan persyaratan yang sama, yaitu meminta imbalan ciuman,
Kleting Kuning menolaknya. Ia tidak ingin menghianati suaminya. Meski ia tidak
mau memenuhi syarat itu, ia tetap memaksa si Yuyu Kangkang untuk membantunya
menyeberangi sungai. Berkali-kali Kleting Kuning memohon, namun kepiting
raksasa itu tetap menolak, kecuali Kleting Kuning mau memenuhi syarat itu.
Kleting Kuning pun mulai habis
kesabarannya. Ia segera memukulkan cambuknya ke sungai dan seketika itu pula
air Sungai Bengawan Solo menjadi surut. Melihat hal itu, Yuyu Kangkang menjadi
ketakutan dan segera menyeberangkan Kleting Kuning, dan bahkan sekaligus
mengantarnya hingga sampai di Desa Dadapan.
Setibanya di rumah Nyai Intan,
Kleting Kuning bertemu dengan ketiga saudara dan ibu angkatnya. Tak berapa lama
kemudian, sayembara pun dimulai. Secara bergiliran, Kleting Abang dan kedua
adiknya menunjukkan kecantikan dan kemolekan tubuhnya di hadapan Ande Ande
Lumut. Namun, tak seorang pun di antara mereka yang dipilih oleh Ande Ande
Lumut. Melihat hal itu, Nyai Intan pun berlutut memohon kepada Ande Ande Lumut
agar memilih salah satu putrinya untuk dijadikan permaisuri.
“Ampun, Pangeran! Hamba mohon,
terimahlah salah seorang dari ketiga putriku ini! Kurang cantik apalagi mereka
dengan dandanan yang sebagus itu?” iba Nyai Intan.
Ande Ande Lumut hanya tersenyum.
“Memang benar, ketiga putri Nyai
cantik semua. Tapi, aku tetap tidak akan memilih seorang pun dari mereka,” kata
Ande Ande Lumut tanpa memberikan alasan.
“Pengawal! Tolong panggilkan gadis
yang berbaju kuning itu kemari!” seru Ande Ande Lumut sambil menunjuk ke arah
seorang gadis yang duduk paling belakang.
Rupanya, gadis yang ditunjuk oleh
Ande Ande Lumut itu adalah Kleting Kuning. Ketika Kleting Kuning menghadap
kepadanya, pangeran tampan itu bangkit dari singgasananya.
“Aku memilih gadis ini sebagai
permaisuriku,” kata Ande Ande Lumut.
Betapa terkejutnya semua orang yang
hadir di tempat itu, terutama Nyai Intan dan ketiga putrinya.
“Ampun, Pangeran! Kenapa Pangeran
lebih memilih gadis yang tak terurus itu dari pada ketiga putriku yang cantik
dan menarik ini?” tanya Nyai Intan ingin tahu.
Ande Ande Lumut kembali tersenyum,
lalu berkata:
“Wahai, Nyai Intan! Ketahuilah, aku
tidak memilih seorang pun dari putrimu, karena mereka ‘bekas’ si Yuyu Kangkang.
Aku memilih gadis ini, karena dia lulus ujian, yakni menolak untuk mencium si
Yuyu Kangkang,” jelas Ande Ande Lumut.
Mendengar penjelasan itu, Nyai Intan
dan ketiga putrinya baru sadar bahwa mereka ditolak oleh Ande Ande Lumut karena
tidak lulus ujian. Sementara itu, Kleting Kuning masih kebingungan, karena
belum menemukan suaminya. Namun, setelah Ande Ande Lumut membongkar
penyamarannya bahwa dirinya adalah Panji Asmarabangun, barulah Kleting Kuning
sadar. Dengan cambuk sakti pemberian si burung bangau, ia segera mengubah dirinya
menjadi seorang putri yang cantik jelita. Panji Asmarabangun baru sadar
ternyata Klenting Kuning adalah istrinya, Dewi Sekartaji. Akhirnya, sepasang
suami istri yang saling mencintai itu bertemu kembali dan hidup berhagia.
Sebagai ucapan terima kasih kepada Mbok Randa, Panji Asmarabangun membawanya
serta tinggal di istana Jenggala. Sementara Nyai Intan dan ketiga putrinya
kembali ke desanya dengan perasaan kecewa dan malu.
* * *
Demikian cerita Ande Ande Lumut dari
daerah Kediri, Jawa Timur. Cerita di atas tergolong dongeng yang mengandung
pesan-pesan moral yang dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari.
Pada tokoh Kleting Abang, Ijo, dan Biru dapat digambarkan bahwa mereka adalah
gadis-gadis cantik yang tidak pandai menjaga harga dirinya, karena menerima
persyaratan Yuyu Kangkang. Akibatnya, mereka pun tidak dipilih Ande Ande Lumut
untuk menjadi permaisuri. Dari sini dapat dipetik pelajaran untuk tidak
menghalalkan segala cara dalam mencapai tujuan.
Pada tokoh Ande Ande Lumut atau
Panji Asmarabangun dapat digambarkan bahwa dia seorang suami yang penyayang dan
setia kepada istrinya. Berbagai usaha yang dilakukannya agar dapat menemukan
kembali istrinya, meskipun harus menyamar dan tinggal di desa bersama seorang
janda tua. Demikian pula pada tokoh Kleting Kuning atau Dewi Sekartaji, dapat
digambarkan bahwa dia seorang wanita yang sabar, setia, dan tidak mau tergoda
dengan lelaki lain, meskipun ia jauh dan tidak mengetahui keadaan suaminya,
apakah masih hidup atau sudah mati. Berkat kesabaran dan kesetiaannya, Dewi
Sekartaji dapat bertemu kembali dengan suaminya, dan mereka pun hidup bahagia.
Dari sini dapat dipetik pelajaran bahwa kesetiaan senantiasa harus selalu
dijaga agar tercipta hubungan yang harmonis dan bahagia dalam kehidupan rumah
tangga.
(Samsuni/sas/171//10-09)
sumber : http://ceritarakyatnusantara.com
0 komentar:
Posting Komentar
Sampaikan walau 1 kata...!!!